
Berawal dari Sakit Gigi, Kini Kanker di Pipi Firman Terus Membesar. Sejak Kelas 5 SD Ia Terpaksa Putus Sekolah

Tidak ada yang pernah menyangka, sakit gigi yang awalnya dianggap biasa justru menjadi awal penderitaan panjang bagi Firman.
Semua bermula dari nyeri di gigi yang tak kunjung reda. Perlahan muncul benjolan kecil di pipinya. Awalnya hanya sebesar kelereng. Namun hari demi hari, benjolan itu terus membesar.
Kini dokter mendiagnosis Firman menderita Malignant Neoplasm of Connective and Soft Tissue, yaitu kanker ganas pada jaringan ikat dan jaringan lunak.
Benjolan di pipinya semakin membesar dan menyakitkan. Rasa nyeri sering datang tiba tiba. Wajahnya perlahan berubah. Aktivitasnya semakin terganggu. Bahkan kanker tersebut mulai menjalar dan memengaruhi kondisi tubuhnya secara keseluruhan.
Karena kondisi yang semakin parah, Firman terpaksa putus sekolah sejak kelas 5 SD. Padahal impiannya sederhana. Ia hanya ingin belajar dengan tenang dan suatu hari bisa membuat kedua orang tuanya bangga.
Ayahnya, Pak Basuni, hanyalah seorang kuli bangunan dengan penghasilan harian yang tidak menentu. Untuk makan sehari hari saja keluarga ini sering kali kesulitan. Namun demi pengobatan anaknya, sang ayah sudah melakukan berbagai cara.
Ia meminjam uang ke sana kemari, menjual barang berharga yang dimiliki, bahkan satu satunya domba yang menjadi tabungan keluarga pun telah dijual demi biaya berobat Firman.
Pengobatan memang menggunakan BPJS, namun kebutuhan lain seperti transportasi kontrol ke rumah sakit, obat tambahan, serta kebutuhan hidup sehari hari tidak sepenuhnya ditanggung.

Untuk membantu orang tuanya, Firman tetap berusaha bekerja. Baru sekitar tiga bulan terakhir ini ia berjualan gorengan milik orang lain dengan cara berkeliling kampung.
Namun penghasilannya sangat tidak menentu.
Kadang hanya Rp25.000. Bahkan sering kali tidak laku sama sekali.
Ketika dagangannya tidak habis, gorengan itu harus dikembalikan kepada pemiliknya, sehingga Firman tidak mendapatkan upah sama sekali. Hanya lelah dan capek yang ia bawa pulang.
Karena kondisinya yang sedang sakit, Firman juga pernah tergelincir dan jatuh di jalan saat membawa dagangannya. Gorengan yang ia tenteng jatuh berhamburan ke tanah.
Saat itu Firman hanya bisa terdiam. Menahan sakit. Menahan sedih.
Di hari hari seperti itu, Firman pulang dengan perut kosong, menahan lapar dan menahan sakit di pipinya yang terus membengkak.
Firman dan keluarganya bahkan tinggal di sebuah gubuk sederhana di atas tanah milik orang lain. Mereka tidak memiliki rumah sendiri. Hidup dalam keterbatasan dan ketidakpastian.

Kini kondisi kanker Firman membutuhkan pemeriksaan lanjutan dan penanganan medis yang lebih serius agar tidak semakin parah. Tanpa tindakan yang tepat, kondisinya bisa terus memburuk.
Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas, harapan itu terasa begitu jauh.
Sodaraku, hari ini Firman tidak hanya sedang melawan kanker. Ia sedang berjuang mempertahankan masa depannya.
Mari bersama bantu Firman mendapatkan pengobatan terbaik dan kehidupan yang lebih layak.
Sedikit kebaikan yang kita titipkan hari ini bisa menjadi harapan besar bagi kesembuhan Firman.