
Deni Zulfikar, seorang ayah dari dua anak, tidak bisa menggambarkan betapa getirnya perjuangan yang ia dan istri, Siti Nur Alin, hadapi. Dari kampung kecil di Kp.Cipaingeun, Rt.002, Rw.002, Desa Sukamaju Kaler, Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya, mereka menghadapi sebuah kisah yang penuh dengan penderitaan dan keputusasaan.
Semua dimulai pada tahun 2010, ketika gejala awal penyakit mulai menggerogoti tubuh sang istri, Siti Nur Alin. Nyeri yang menyerang telinganya menjadi mimpi buruk yang tak pernah berakhir. Namun, ketika dokter menetapkan diagnosis awal, ternyata itu hanya permulaan dari kisah pahit yang akan menyelimuti hidup mereka. Tinnitus dan nasofaring rongga hidung merupakan awal dari perjalanan kengerian itu.

Waktu berlalu tanpa kelegaan. Penyakit yang semestinya sembuh, justru semakin merajalela. Di rumah sakit terdekatlah mereka berusaha mencari harapan. Namun, yang mereka temukan bukanlah kabar baik, melainkan berita yang menghancurkan. Tumor ganas telah menyebar ke bagian hidung, mengganggu pernapasan dan pendengaran Siti Nur Alin.
Tidak ada pilihan selain berangkat ke RS Hasan Sadikin Bandung. Kemo dan sinar menjadi teman setia dalam perjalanan panjang menghadapi penyakit ini. Namun, harga yang mereka bayar bukan hanya dalam bentuk uang. Matanya tak lagi mampu melihat, napasnya terengah-engah, tubuhnya semakin kurus karena kesulitan makan. Bahkan kebutuhan dasar seperti susu untuk menguatkan tubuhnya menjadi barang mewah yang tak terjangkau.

Deni, seorang pengendara ojol, harus menahan getirnya hidup. Penghasilannya yang minim hanya cukup untuk memberi makan sehari-hari, sementara pesanan yang tidak jarang dibatalkan membuat situasinya semakin memburuk. Semua kebutuhan operasi dan pengobatannya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

Ikhtiar sudah banyak sekali saya lakukan, bahkan saya sudah berusaha meminjam ke saudara dan tetangga saya. Namun, hingga saat ini masih belum cukup, dan istri saya masih harus melakukan pengobatan. Ujar Deni
Keadaan semakin sulit saat Deni harus mengurusi istri yang tak lagi bisa melihat dan dua anak mereka yang harus ditinggalkan di Tasikmalaya. Keputusan pahit itu mereka ambil agar Deni bisa mengurus istri yang sedang kritis.
Sementara itu, Siti Nur Alin harus bertahan dengan keinginan yang kuat untuk sembuh. Ketika keputusasaan hampir merenggutnya, ia masih bisa merasakan sentuhan cinta dari suaminya dan kehadiran hangat anak-anaknya. Harapannya yang paling besar adalah bisa merasakan kembali nikmatnya sujud di atas sajadah.
#SahabatKebaikan, Mari kita satukan kebaikan dalam tindakan! Bantu Pak Deni dan keluarganya melalui sedekahmu. Bersama, kita bisa memberikan harapan kepada keluarga ini. Yuk, mari berpartisipasi dengan cara:
![]()
Belum ada Fundraiser