
“Ayah… Kalau Sila Jadi Anak Baik, Ayah Bisa Pulang Lagi Nggak?”
Tidak ada yang mampu menjawab pertanyaan itu.
Karena yang dipeluk Sila hari itu hanyalah sebuah batu nisan.
Di usianya yang baru menginjak delapan tahun, Sila belum benar-benar memahami arti kehilangan. Yang ia tahu, dulu ayah selalu mengantarnya berangkat sekolah, memeluknya sebelum tidur, dan tersenyum setiap kali ia pulang membawa cerita. Kini semua itu hanya tinggal kenangan.

Di depan pusara sang ayah, Sila berbisik lirih,
"Ayah… Sila kangen."
Lalu dengan polos ia bertanya,
"Kalau Sila jadi anak baik, Ayah bisa pulang lagi nggak?"
Tak ada jawaban.
Hanya angin yang berhembus pelan, menemani kerinduan seorang anak yang masih berharap ayahnya kembali.

Ayah Sila telah berpulang setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya selama 8 tahun. Selama proses pengobatan, keluarga melakukan apa pun yang mereka mampu. Motor dijual, tabungan dihabiskan, bahkan aset rumah yang menjadi saksi tumbuh kembang Sila pun ikut dijual. Dan sekarang mereka harus menumpang di rumah tetangga. Semua dilakukan demi satu harapan: ayah bisa sembuh dan kembali berkumpul bersama keluarga.
Namun Allah berkehendak lain.
Ayah berpulang menghadap-Nya.
Kepergian itu bukan hanya meninggalkan duka yang mendalam, tetapi juga beban kehidupan yang harus dipikul seorang ibu seorang diri.

Kini, sebelum adzan Subuh berkumandang, ibu Sila sudah berada di dapur. Dengan tangan yang tak pernah lelah, beliau membuat es mambo untuk dijual dari rumah ke rumah. Dari hasil itulah kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah, dan kehidupan anak-anaknya bergantung.
Namun jualan tidak selalu berpihak.
Ada hari ketika seharian penuh yang terjual hanya empat es mambo.
Empat.
Meski begitu, ibu tetap tersenyum di hadapan anak-anaknya. Beliau ingin mereka percaya bahwa esok akan selalu membawa harapan baru.
Di tengah segala keterbatasan, Sila tidak pernah berhenti bermimpi.

Saat ditanya ingin menjadi apa ketika besar nanti, ia menjawab dengan senyum yang begitu tulus,
"Aku ingin jadi koki."
Bukan karena ingin terkenal.
Bukan pula karena ingin menjadi kaya.
Tetapi karena ia ingin memasakkan makanan terenak untuk ibunya, agar suatu hari nanti ibunya tidak perlu lagi bekerja terlalu keras.
Sahabat Kebaikan,
Sila memang telah kehilangan pelukan ayahnya.
Tetapi ia tidak boleh kehilangan masa depannya.
Hari ini, kita mungkin tidak mampu menghapus luka di hatinya. Kita juga tidak bisa mengembalikan sosok ayah yang begitu ia rindukan.
Namun kita masih bisa menghadirkan harapan.
Harapan agar Sila tetap bisa bersekolah.
Harapan agar kebutuhan hidupnya tetap terpenuhi.
Harapan agar cita-citanya tidak berhenti hanya karena keadaan.
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Aku dan orang yang menanggung anak yatim akan berada di surga seperti ini." Lalu beliau merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Bukhari)
Mari menjadi bagian dari perjalanan hidup Sila.
InsyaAllah, setiap donasi yang Sahabat titipkan akan digunakan untuk membantu kebutuhan pendidikan, perlengkapan sekolah, kebutuhan hidup sehari-hari, serta pendampingan bagi Sila dan anak-anak yatim lainnya.
Ayahnya memang tak bisa kembali.
Namun dengan kepedulian kita, Sila masih bisa melanjutkan mimpinya.
Jangan biarkan seorang anak kehilangan dua hal sekaligus: sosok ayah dan harapan akan masa depannya. Tunaikan bantuan terbaikmu sekarang juga dengan cara:
Legalitas Lembaga :
Izin operasional LAZ Kabupaten/kota Nomor : 438 Tahun 2025 - Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat.
Call Center: 0821 8900 3030
![]()
Belum ada Fundraiser